- Back to Home »
- Makalah Perkembangan Peserta Didik : PENGARUH KELOMPOK SEBAYA DALAM PERKEMBANGAN REMAJA
Posted by : PTIK03 2011 UNM
Minggu, 25 Mei 2014
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam proses
perkembangan. karena itu perkembangan pada masa remaja sudah seharusnya
mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, terutama dari lingkungan
terdekatnya. Salah satu bagian terpenting dari perkembangan remaja adalah
perkembangan dalam kehidupan sosial. Memang perkembangan fisik tidak dapat
dilepaskan, tetapi kebanyakan kasus remaja terjadi dikarenakan kurang
sempurnanya proses perkembangan sosialnya. Permasalahan dalam perkembangan
sosial remaja dikarenakan para remaja belum mampu menjalankan tugas
perkembangan sosialnya. Tugas perkembangan sosial remaja adalah tugas yang khas
dimiliki oleh para remaja. Para remaja, disadari atau tidak, mereka harus
memenuhi tugasnya tersebut, tetapi disatu sisi tantangan remaja untuk memenuhi
tugas tersebut sangatlah berat. Sehingga para remaja membutuhkan orang lain
misalnya keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosialnya, untuk memenuhi tugas
perkembangan sosialnya.Dalam perkembangan sosial remaja, teman sebaya sangatlah
berperan penting. Peranan teman-teman sebaya terhadap remaja terutama berkaitan
dengan sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku. Remaja sering kali
menilai bahwa bila dirinya memakai model pakaian yang sama dengan anggota
kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk diterima oleh teman-teman
sebayanya menjadi besar. Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum
alkohol, obat-obatan terlarang atau rokok, maka remaja cenderung mengikutinya
tanpa memperdulikan perasaannya sendiri dan akibatnya. Hal ini berarti
menunjukkan bahwa kuatnya pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan hubungan
sosial remaja.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu remaja?
2. Apa itu kelompok sebaya?
3. Apa peranan kelompok teman sebaya dalam kehidupan remaja?
4. Apa jenis dan fungsi kelompok sebaya?
5. Bagaimanakah pengaruh hubungan dengan kelompok sebaya terhadap perkembangan sosial remaja?
6. Bagaimana upaya untuk menanggulangi pengaruh negative kelompok sebaya?
C. TUJUAN
1. Dapat memahami pengertian remaja
1. Dapat memahami pengertian remaja
2. Dapat mengerti dan memahami tentang kelompok sebaya
3. Mengetahui jenis dan fungsi kelompok sebaya
4. Mengetahui peranan kelompok sebaya dalam kehidupan remaja
5. Dapat mengetahui pengaruh hubungan dengan kelompok sebaya
terhadap perkembangan sosial remaja
6. Dapat memahami upaya untuk menanggulangi pengaruh
negative kelompok sebaya
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Remaja
1.Pengertian Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescene (kata bendanya adolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2001). Pedoman umum remaja di Indonesia menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah (Soetjiningsih, 2004).
Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).
Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa remaja, yang sering kali remaja dihadapkan pada situasi yang membingungkan, disatu pihak dia harus bertingkah laku seperti orang dewasa dan disisi lain dia belum bisa dikatakan dewasa. (Purwanto, 1999).
Perubahan masa pubertas pada remaja putri adalah terjadi menarche (menstruasi pertama kali). Hal ini menunjukkan bahwa organ reproduksi mulai matang. Apabila seks pranikah terjadi pada remaja putri dampak yang paling membahayakan yaitu kehamilan.dan efek negatif dari kehamilan adalah abortus.
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescene (kata bendanya adolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2001). Pedoman umum remaja di Indonesia menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah (Soetjiningsih, 2004).
Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).
Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa remaja, yang sering kali remaja dihadapkan pada situasi yang membingungkan, disatu pihak dia harus bertingkah laku seperti orang dewasa dan disisi lain dia belum bisa dikatakan dewasa. (Purwanto, 1999).
Perubahan masa pubertas pada remaja putri adalah terjadi menarche (menstruasi pertama kali). Hal ini menunjukkan bahwa organ reproduksi mulai matang. Apabila seks pranikah terjadi pada remaja putri dampak yang paling membahayakan yaitu kehamilan.dan efek negatif dari kehamilan adalah abortus.
2. kategori Remaja
World Health Organization menetapkan batas usia remaja dalam 2 bagian yaitu:
1) Periode remaja awal (early adolescence)
Periode ini berkisar antara umur 10 sampai 12 tahun. Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
2) Periode remaja akhir
Periode ini antara umur 15 sampai 20 tahun. Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa. Pemantapan identitas diri ini tidak selalu berjalan lancar, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress (Latifah, 2008).
Pengkategorian remaja berdasarkan jenis kelamin (Hurlock, 2001):
1) Remaja laki-laki
Remaja laki-laki mengalami pubertas antara umur 14-17 tahun dengan tanda-tanda yaitu: mimpi basah, timbul rambut di ketiak, dada dan dagu, tidak cepat terbawa emosi, tidak cepat mengeluh, tidak mudah putus asa.
2) Remaja putri
Remaja putri mengalami pubertas berlangsung pada umur 12-15 tahun, dengan tanda-tanda yaitu: menars (menstruasi pertama), timbul rambut di ketiak dan kemaluan, pembesaran payudara dan pinggul.
World Health Organization menetapkan batas usia remaja dalam 2 bagian yaitu:
1) Periode remaja awal (early adolescence)
Periode ini berkisar antara umur 10 sampai 12 tahun. Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
2) Periode remaja akhir
Periode ini antara umur 15 sampai 20 tahun. Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa. Pemantapan identitas diri ini tidak selalu berjalan lancar, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress (Latifah, 2008).
Pengkategorian remaja berdasarkan jenis kelamin (Hurlock, 2001):
1) Remaja laki-laki
Remaja laki-laki mengalami pubertas antara umur 14-17 tahun dengan tanda-tanda yaitu: mimpi basah, timbul rambut di ketiak, dada dan dagu, tidak cepat terbawa emosi, tidak cepat mengeluh, tidak mudah putus asa.
2) Remaja putri
Remaja putri mengalami pubertas berlangsung pada umur 12-15 tahun, dengan tanda-tanda yaitu: menars (menstruasi pertama), timbul rambut di ketiak dan kemaluan, pembesaran payudara dan pinggul.
B. Kelompok Sebaya
Menurut John W Santrock kelompok
sebaya ialah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan
yang kurang lebih sama yang saling berinteraksi dengan kawan-kawan sebaya yang
berusia sama dan memiliki peran yang unik dalam budaya atau kebiasaannya.
Percepatan perkembangan pada masa remaja berhubungan dengan pematangan seksual yang akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Sebelum memasuki masa remaja biasanya seorang anak sudah mampu menjalankan hubungan yang erat dengan teman sebayanya. Seiring dengan hal itu juga timbul kelompok anak-anak yang bermain bersama atau membuat rencana bersama. Sifat yang khas pada kelompok anak sebelum masa remaja adalah bahwa kelompok tadi terdiri dari jenis kelamin yang sama. Persamaan kelamin yang sama ini dapat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan juga berhubungan dengan perasaan identifikasi untuk mempersiapkan pengalaman identitasnya. Sedangkan pada masa remaja ini, anak sudah mulai berani untuk melakukan kegiatan dengan lawan jenisnya dalam berbagai macam kegiatan.Selama tahun pertama masa remaja, seorang anak remaja cenderung memiliki keanggotaan yang lebih luas. Dengan kata lain, tetangga atau teman-temannya seringkali menjadi anggota kelompoknya. Biasanya kelompoknya lebih hiterogen daripada berkelompok dengan teman sebayanya. Misalnya kelompok teman sebaya pada masa remaja cenderung memiliki suatu campuran individu-individu dari berbagai kelompok. Interaksi yang semakin intens menyebabkan kelompok bertambah kohesif. Dalam kelompok dengan kohesif yang kuat maka akan berkembanglah iklim dan norma-norma tertentu. Namun hal ini berbahaya bagi pembentukan identitas dirinya. Karena pada masa ini, dia lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok daripada pola pribadinya. Tetapi terkadang adanya paksaan dari norma kelompok membuatnyua sulit untuk membentuk keyakinan diri.
Percepatan perkembangan pada masa remaja berhubungan dengan pematangan seksual yang akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Sebelum memasuki masa remaja biasanya seorang anak sudah mampu menjalankan hubungan yang erat dengan teman sebayanya. Seiring dengan hal itu juga timbul kelompok anak-anak yang bermain bersama atau membuat rencana bersama. Sifat yang khas pada kelompok anak sebelum masa remaja adalah bahwa kelompok tadi terdiri dari jenis kelamin yang sama. Persamaan kelamin yang sama ini dapat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan juga berhubungan dengan perasaan identifikasi untuk mempersiapkan pengalaman identitasnya. Sedangkan pada masa remaja ini, anak sudah mulai berani untuk melakukan kegiatan dengan lawan jenisnya dalam berbagai macam kegiatan.Selama tahun pertama masa remaja, seorang anak remaja cenderung memiliki keanggotaan yang lebih luas. Dengan kata lain, tetangga atau teman-temannya seringkali menjadi anggota kelompoknya. Biasanya kelompoknya lebih hiterogen daripada berkelompok dengan teman sebayanya. Misalnya kelompok teman sebaya pada masa remaja cenderung memiliki suatu campuran individu-individu dari berbagai kelompok. Interaksi yang semakin intens menyebabkan kelompok bertambah kohesif. Dalam kelompok dengan kohesif yang kuat maka akan berkembanglah iklim dan norma-norma tertentu. Namun hal ini berbahaya bagi pembentukan identitas dirinya. Karena pada masa ini, dia lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok daripada pola pribadinya. Tetapi terkadang adanya paksaan dari norma kelompok membuatnyua sulit untuk membentuk keyakinan diri.
C. Peran Kelompok Sebaya
Terhadap Perkembangan Remaja
Remaja memiliki kebutuhan yang kuat
untuk disukai dan diterima oleh teman sebaya. Sebagai akibatnya, mereka akan
merasa senang apabila diterima dan sebaliknya merasa tertekan dan cemas apabila
dikeluarkan dan diremehkan oleh teman-teman sebayanya. Bagi kebanyakan remaja,
pandangan teman sebaya terhadap dirinya merupakan hal yang paling penting.
Teman sebaya merupakan anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat
kematangan yang kurang lebih sama. interaksi diantara teman sebaya yang berusia
sama sangat berperan penting dalam perkembangan sosial. Pertemanan berdasarkan
tingkat usia dengan sendirinya akan terjadi meskipun sekolah tidak menerapkan
sistem usia. Remaja dibiarkan untuk menentukan sendiri komposisi masyarakat
mereka. Bagaimanapun, seseorang dapat belajar menjadi petarung yang baik hanya
jika diantara teman yang seusianya. Salah satu fungsi terpenting dari teman
sebaya adalah sebagai sumber informasi mengenai dunia di luar keluarga. Remaja
memperoleh umpan balik mengenai kemampuannya dari teman-teman sebayanya. Dan
remaja mempelajari bahwa apa yang mereka lakukan itu lebih baik. Hubungan yang
baik dengan teman sebaya perlu agar perkembangan sosialnya berjalan normal. Hubungan
dengan teman sebaya dapat bersifat negatif atau positif.Piaget dan Sullivan
menekankan bahwa hubungan dengan teman sebaya memberikan konteks bagi remaja
untuk mempelajari modus hubungan timbal balik yang simetris.Hartup menyatakan
bahwa hubungan dengan teman sebaya bersifat kompleks dan dapat bervariasi
tergantung pada bagaimana pengukurannya, perumusan hasilnya, dan garis
perkembangannya.
Kebutuhan remaja terhadap hubungan dengan teman sebaya sangatlah penting untuk perkembangan sosialnya. Maka jika ada keterbatasan hubungan dengan teman sebayanya akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak tersebut, misalnya orang tua yang membatasi anaknya secara berlebihan untuk tidak berhubungan dengan teman sebayanya, hal ini akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, yaitu ketika si anak terjun ke dalam masyarakat. Sehingga ia sulit untuk bersosialisasi di masyarakat. Peranan kelompok sebaya dalam kehidupan remaja yaitu :1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan persiapan bagi kehidupan di masa mendatang.2. Berperan pula terhadap pandangan dan perilakunya. Sebabnya adalah, karena remaja pada umur ini sedang berusaha untuk bebas dari keluarga dan tidak tergantung pada orang tua. Akan tetapi pada waktu yang sama ia takut kehilangan rasa nyaman yang telah diperolehnya selama masa kanak-kanaknya.3. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya. Pengganti tersebut ditemukannya dalam kelompok teman, karena mereka saling dapat membantu dalam persiapan menuju kemandirian emosional yang bebas dan dapat pula menyelamatkannya dari pertentangan batin dan konflik sosial.4. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya. Karena remaja merasa dirinya kerdil bila berada dekat orang tuanya atau orang dewasa pada umumnya, karena kurang pengalaman, lemahnya pribadi dan kurangnya umur. Hal tersebut menyebabkan remaja menjauh dari orang tua, sebab ia tidak mau dianggap anak-anak lagi, kendatipun ia masih suka bermain dan bersenang-senang. Akan tetapi bila ia berada di tengah-tengah teman sebaya, ia tidak akan merasa kecil atau kerdil, baik dari segi fisik maupun mental.5. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota. Apabila semakin terasa keinginan untuk babas, maka semakin terikat hatinya kepada kelompok teman sebaya yang dapat memberikan kepuasan dan kebebasan. Hal inilah yang seringkali dirisaukan oleh orang tua, karena siskap mereka yang semakin menjauh dan kadang benci kepadanya.
Kebutuhan remaja terhadap hubungan dengan teman sebaya sangatlah penting untuk perkembangan sosialnya. Maka jika ada keterbatasan hubungan dengan teman sebayanya akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak tersebut, misalnya orang tua yang membatasi anaknya secara berlebihan untuk tidak berhubungan dengan teman sebayanya, hal ini akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, yaitu ketika si anak terjun ke dalam masyarakat. Sehingga ia sulit untuk bersosialisasi di masyarakat. Peranan kelompok sebaya dalam kehidupan remaja yaitu :1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan persiapan bagi kehidupan di masa mendatang.2. Berperan pula terhadap pandangan dan perilakunya. Sebabnya adalah, karena remaja pada umur ini sedang berusaha untuk bebas dari keluarga dan tidak tergantung pada orang tua. Akan tetapi pada waktu yang sama ia takut kehilangan rasa nyaman yang telah diperolehnya selama masa kanak-kanaknya.3. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya. Pengganti tersebut ditemukannya dalam kelompok teman, karena mereka saling dapat membantu dalam persiapan menuju kemandirian emosional yang bebas dan dapat pula menyelamatkannya dari pertentangan batin dan konflik sosial.4. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya. Karena remaja merasa dirinya kerdil bila berada dekat orang tuanya atau orang dewasa pada umumnya, karena kurang pengalaman, lemahnya pribadi dan kurangnya umur. Hal tersebut menyebabkan remaja menjauh dari orang tua, sebab ia tidak mau dianggap anak-anak lagi, kendatipun ia masih suka bermain dan bersenang-senang. Akan tetapi bila ia berada di tengah-tengah teman sebaya, ia tidak akan merasa kecil atau kerdil, baik dari segi fisik maupun mental.5. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota. Apabila semakin terasa keinginan untuk babas, maka semakin terikat hatinya kepada kelompok teman sebaya yang dapat memberikan kepuasan dan kebebasan. Hal inilah yang seringkali dirisaukan oleh orang tua, karena siskap mereka yang semakin menjauh dan kadang benci kepadanya.
D. Jenis dan Fungsi Kelompok SebayaJenis-jenis Kelompok Sebaya
Setiap kelompok sebaya mempunyai
atauran baik yang bersifat implicit maupun eksplisit, harapan-harapan terhadap
anggotanya. Ditinjau dari sifat organisasinya kelompok sebaya dapat dibedakan
menjadi:
- Kelompok sebaya yang bersifat informal. Kelompok sebaya ini dibentuk, diatur, dan dipimpin oleh anak itu sendiri misalnya, kelompok permainan, gang, dan lain-lain. Di dalam kelompok ini tidak ada bimbingan dan partisipasi orang dewasa.
- Kelompok sebaya yang bersifat formal. Di dalam kelompok ini ada bimbingan, partisipasi atau pengarahan orang dewasa. Apabila bimbingan dan pengarahan diberikan secara bijaksana maka kelompok sebaya ini dapat menjadi wahana proses sosialisasi nilai-nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat. Yang termasuk dalam kelompok sebaya ini misalnya, kepramukaan, klub, perkumpulan pemuda dan organisasi lainnya.
Menurut
Robbins, ada empat jenis kelompok sebaya yang mempunyai peranan penting dalam
proses sosialisasi yaitu kelompok permaianan, gang, klub, dan klik (clique). Kelompok
permainan (play group) terbentuk secara spontan dan merupakan kegiatan khas
anak-anak, namun di dalamnya tercermin pula struktur dan proses masyarakat
luas, sedang gang, bertujuan untuk melakukan kegiatan kejahatan,
kekerasan, dan perbuatan anti sosial. Klub adalah kelompok sebaya yang
bersifat formal dalam artian mempunyai organisasi sosial yang teratur serta
dalam bimbingan orang dewasa. Sementara itu klik (clique), para
anggotanya selalu merencanakan untuk mengerjakan sesuatu secara bersama yang
bersifat positif dan tidak menimbulkan konflik sosial.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kelompok sebaya sangat berperan penting dalam proses sosialisasi individu terutama kelompok sebaya remaja. Pengaruh kelompok sebaya tidak hanya berdampak negatif akan tetapi juga berdampak positif. Untuk itu pembentengan diri melalui keluarga masih sangat diperlukan bahwa ketika anak memiliki teman maka kenalilah siapa yang menjadi teman anak kita.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kelompok sebaya sangat berperan penting dalam proses sosialisasi individu terutama kelompok sebaya remaja. Pengaruh kelompok sebaya tidak hanya berdampak negatif akan tetapi juga berdampak positif. Untuk itu pembentengan diri melalui keluarga masih sangat diperlukan bahwa ketika anak memiliki teman maka kenalilah siapa yang menjadi teman anak kita.
Fungsi Kelompok
Sebaya Di dalam
kelompok sebaya anak belajar bergaul dengan sesamanya. Mula-mula kelompok
sebaya pada anak-anak itu terbentuk dengan secara kebetulan. Dalam perkembangan
selanjutnya masuknya anak ke dalam suatu kelompok sebaya berdasarkan pilihan.
Setelah anak masuk ke sekolah kelompok sebayanya dapat berupa teman sekelasnya,
klik dalam kelasnya, dan kelompok permainannya. Dalam kelompok sebaya itu
anak belajar memberi dan menerima dalam pergaulannya dengan sesama temannya.
Partisipasi di dalam kelompok sebayanya memberikan kesempatan yang besar bagi
anak mengalami proses belajar sosial (sosial learning). Bergaul dengan teman
sebaya merupakan persiapan penting dalam kehidupan seseorang setelah
dewasa. Selain itu, di dalam kelompok sebaya anak mempelajari kebudayaan
masyarakat. Bahwa melalui kelompok sebaya itu anak belajar bagaimana menjadi
manusia yang baik sesuai dengan gambaran dan cita-cita masyarakatnya, tentang
kejujuran, keadilan, kerja sama, dan tanggung jawab. Sehingga kelompok sebaya
menjadi wadah dalam mengajarkan mobilitas sosial. Melalui pergaulan di dalam
lingkungan kelompok sebaya itu anak-anak yang berasal dari kelas sosial bawah
menangkap nilai-nilai, ide-ide, cita-cita, dan pola tingkah laku anak dari
golongan menengah ke atas demikian juga sebaliknya. Kelompok sebaya juga
masing-masing individu mempelajari peranan sosial yang baru. Anak yang biasa
dididik dengan pola dengan otoriter dapat mengenal kehidupan demokratis dalam
kelompok sebaya. Di dalam kelompok sebaya mungkin anak berperan sebagai
sahabat, musuh, pemimpin, pencetus ide, dan sebagainya. Sehingga di dalam
kelompok sebaya anak mempunyai kesempatan melakukan bermacam-macam kelompok
sosial.
E. Pengaruh
Hubungan dengan Kelompok Sebaya Terhadap Perkembangan Sosial Remaja.
Menurut gerungan (1986), kenakalan
remaja muncul akibat terjadinya interaksi sosial antara individu (remaja)
dengan teman sebayanya. Peran interaksi dengan teman sebaya tersebut dapat
berupa imitasi, identifikasi, sugesti dan simpati. Remaja dapat meniru
(imitasi) kenakalan yang dilakukan teman sebayanya, sementara itu sugesti bahwa
kebut-kebutan dan penggunaan narkotika adalah remaja ideal, dapat mengakibatkan
remaja yang mulanya baik menjadi nakal. Kuatnya pegaruh teman-teman sebaya yang
mengarahkan remaja menjadi nakal atau tidak juga ditentukan bagaimana persepsi
remaja terhadap teman sebayanya. persepsi memegang peran penting bagi tinggi
atau rendahnya kenakalan remja, yang dalam tahapan selanjutnya dapat menjadi
aksi nyata berupa perilaku nakal yang merugikan ligkungan dan dapat dikenai
sangsi pidana. Dengan kata lain, jika remaja melihat bahwa teman sebayanya
adalah media yang tepat untuk menyalurkan keinginan negative atau tujuan
negative lainnya, maka tinggi pulalah kecenderungan remaja untuk berperilaku
nakal. Penelitian seperti itu tentu saja penelitian negative remaja terhadap
teman sebayanya.
Persepsi merupakan proses pemahaman terhadap suatu objek yang merangsang panca indra dan memungkinkan individu (remaja) untuk membuat kontruksi dan prediksi tentang keseluruhan dari stimulus tersebut. Kemudian dari persepsi tersebut, individu dapat menilai kejadian yang ada diluarnya.
Remaja yang berpersepsi positif terhadap teman sebayanya, memandang bahwa teman sebaya sebagai tempat memperoleh informasi yang tidak didapatkan di dalam keluarga, tempat menambah kemampuan dan menjadi tempat kedua setelah keluarga untuk mengarahkan dirinya (menuju kepada perilaku yang baik) serta memberikan masukan (koreksi) terhadap kekurangan yang dimilikinya, yang tentu saja akan membawa dampak baik bagi remaja yang bersangkutan (santrock, 1997). Sebaliknya, remaja yang berpersepsi negative terhadap teman-teman sebayanya, maka remaja melihat bahwa kelompok teman sebaya adalah sebagai kompensasi penebusan atas kekurangan yang dimilikinya atau sebagai ajang balas dendam terhadap lingkungan yang menolak atau memenuhi dirinya. Remaja yang merasa frustasi (karena ketidakmampuannya menghadapi kekurangan dan penolakan dari lingkungan/merasa dikucilkan) secara spontan saling bersimpati dan tarik-menarik, kemudian menggerombol untuk mendapatkan dukungan moral, dan memuaskan segenap kebutuhannya.Kecenderungan remaja akan rendah ketika remaja mampu berpersepsi bahwa teman sebaya adalah tempat untuk belajar bebas dari orang-orang dewasa (mandiri), belajar kepada kelompok, belajar menyesuaikan diri dengan standar kelompok, belajar bermain dan olahraga, belajar berbagi rasa, belajar bersikap sportif, belajar menerima dan melakanakan tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain, belajar perilaku sosial yang baik, dan belajar bekerja sama.
Pengaruh teman sebaya terhadap remaja itu ternyata berkaitan dengan iklim keluarga itu sendiri . Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya(iklim keluarga sehat) cenderung dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebayanya, dibandingkan dengan remaja yang hubungan dengan orang tuanya kurang baik.
Persepsi merupakan proses pemahaman terhadap suatu objek yang merangsang panca indra dan memungkinkan individu (remaja) untuk membuat kontruksi dan prediksi tentang keseluruhan dari stimulus tersebut. Kemudian dari persepsi tersebut, individu dapat menilai kejadian yang ada diluarnya.
Remaja yang berpersepsi positif terhadap teman sebayanya, memandang bahwa teman sebaya sebagai tempat memperoleh informasi yang tidak didapatkan di dalam keluarga, tempat menambah kemampuan dan menjadi tempat kedua setelah keluarga untuk mengarahkan dirinya (menuju kepada perilaku yang baik) serta memberikan masukan (koreksi) terhadap kekurangan yang dimilikinya, yang tentu saja akan membawa dampak baik bagi remaja yang bersangkutan (santrock, 1997). Sebaliknya, remaja yang berpersepsi negative terhadap teman-teman sebayanya, maka remaja melihat bahwa kelompok teman sebaya adalah sebagai kompensasi penebusan atas kekurangan yang dimilikinya atau sebagai ajang balas dendam terhadap lingkungan yang menolak atau memenuhi dirinya. Remaja yang merasa frustasi (karena ketidakmampuannya menghadapi kekurangan dan penolakan dari lingkungan/merasa dikucilkan) secara spontan saling bersimpati dan tarik-menarik, kemudian menggerombol untuk mendapatkan dukungan moral, dan memuaskan segenap kebutuhannya.Kecenderungan remaja akan rendah ketika remaja mampu berpersepsi bahwa teman sebaya adalah tempat untuk belajar bebas dari orang-orang dewasa (mandiri), belajar kepada kelompok, belajar menyesuaikan diri dengan standar kelompok, belajar bermain dan olahraga, belajar berbagi rasa, belajar bersikap sportif, belajar menerima dan melakanakan tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain, belajar perilaku sosial yang baik, dan belajar bekerja sama.
Pengaruh teman sebaya terhadap remaja itu ternyata berkaitan dengan iklim keluarga itu sendiri . Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya(iklim keluarga sehat) cenderung dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebayanya, dibandingkan dengan remaja yang hubungan dengan orang tuanya kurang baik.
PENGARUH POSITIF PERGAULAN
1.
Lebih mengenal nilai-nilai dan norma social yang berlaku sehingga mampu
membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak dalam melakukan sesuatu.
2. Lebih mengenal kepribadian masing-masing orang sekaligus menyadari bahwa
manusia memiliki keunikan yang masing-masing perlu
dihargai.
3. Mampu menyesuaikan diri dalam
berinteraksi dengan banyak orang sehingga mampu meningkatka rasa percaya diri
4.
Mampu membentuk kepribadian yang baik yang bisa diterima di berbagai lapisan
masyarakat sehingga bisa tumbuh dan berkembang menjadi sosok individu yang
pantas diteladani.
PENGARUH NEGATIF
1. Hilangnya
semangat belajar dan cenderung malas dan menyukai hal-hal yang melanggar norma
social
2. Suramnya masa depan akibat terjerumus
dalam dunia kelam, misalnya: kecanduan narkoba, terlibat dalam tindak criminal
dan sebagainya
3. Dijauhi masyarakat sekitar
karena perilaku tidak sesuai dengan nilai/norma social yang berlaku
4. Tumbuh menjadi sosok individu dengan kepribadian yang menyimpang.
G. UPAYA UNTUK
MENANGGULANGI PANGARUH NEGATIF
Ibarat orang yang
terlanjur sakit atau terserang penyakit, tidaklah mudah mengembalikan situasi
seperti semula. Tindakan pengobatan atau terapi yang terus menerus diperlukan
untuk mengembalikan kondisi pribadi yang terlanjur menyimpang akibat pengaruh
pergaulan negatif.
Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengaruh negatif yang terlanjur mencemari diri individu:
Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengaruh negatif yang terlanjur mencemari diri individu:
1.
Membakitkan kesadaran kepada yang bersangkutan bahwa apa yang telah ia lakukan
adalah menyimpang. Kadangkala perilaku menyimpang tidak menyadari bahwa apa
yang telah ia lakukan salah. Jika dari yang bersangkutan belum ada kesadaran
bahwa apa yang dilakukan selama ini keliru adalah sia-sia. Misalnya, anak yang
tidak menyadari bahwa merokok itu tidak baik bagi kesehatannya akan sulit untuk
diarahkan agar ia menjauhi rokok
2.
Memutuskan rantai yang menghubungkan antara individu dengan lingkungan
yang menyebabkan ia berperilaku menyimpang. Hal ini dapat dilakukan dengan
memindahkan individu tersebut dari lingkungan pergaulannya dan membawa ke
kancah pergaulan baru. Hal ini tidaklah mudah, sebab kadangkala yang
bersangkutan tidak mampu menyesuaikan diri di tempat lingkungannya yang baru
atau justru lingkungan baru yang tidak mampu menerimanya.
3. Melakukan pengawasan melakat sebagai control secara terus-menerus agar anak terhindar dari perilaku yang menyimpang. Pengawasan harus dilakukan oleh orang yang disegani, sehingga anak tidak berani mengulangi perbuatannya yang salah.
4. Melakukan kegiatan konseling atau pemberian nasihat secara persuasive, sehingga anak tidak merasa bahwa ia dibawah proses pembimbingan. Melibatkan anak dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan keyakinan yang ia anut merupakan salah satu cara yag dapat dilakukan untuk membuka pikitan anak mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
3. Melakukan pengawasan melakat sebagai control secara terus-menerus agar anak terhindar dari perilaku yang menyimpang. Pengawasan harus dilakukan oleh orang yang disegani, sehingga anak tidak berani mengulangi perbuatannya yang salah.
4. Melakukan kegiatan konseling atau pemberian nasihat secara persuasive, sehingga anak tidak merasa bahwa ia dibawah proses pembimbingan. Melibatkan anak dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan keyakinan yang ia anut merupakan salah satu cara yag dapat dilakukan untuk membuka pikitan anak mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
BAB IIIPENUTUP
KESIMPULAN
Perkembangan
Sosial Merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Sebagai proses
belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan
tradisi dan juga untuk meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling
berkomunikasi dan bekerja sama.Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang
telah mencapai jenjang menjelang dewasa, pada jenjang ini kebutuhan remaja
telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah
cukup luas.Kelompok sebaya ialah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau
tingkat kematangan yang kurang lebih sama yang saling berinteraksi dengan
kawan-kawan sebaya yang berusia sama dan memiliki peran yang unik dalam budaya
atau kebiasaannya.
Peranan Kelompok Sebaya dalam Kehidupan Remaja
Peranan Kelompok Sebaya dalam Kehidupan Remaja
1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan
persiapan bagi kehidupan di masa mendatang, Berperan pula terhadap pandangan
dan perilakunya.
2. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya.
3. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya.
4. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota.
5. Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja sangatlah dominan dalam kehidupannya
Jenis dan fungsi kelompok sebayaJenis kelompok sebaya yaitu :
2. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya.
3. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya.
4. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota.
5. Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja sangatlah dominan dalam kehidupannya
Jenis dan fungsi kelompok sebayaJenis kelompok sebaya yaitu :
1. Kelompok sebaya yang bersifat informal.
2. Kelompok sebaya yang bersifat formal.
Fungsi kelompok sebaya :Dalam kelompok sebaya itu anak belajar memberi dan menerima dalam pergaulannya dengan sesama temannya. Partisipasi di dalam kelompok sebayanya memberikan kesempatan yang besar bagi anak mengalami proses belajar sosial (sosial learning). Bergaul dengan teman sebaya merupakan persiapan penting dalam kehidupan seseorang setelah dewasa. di dalam kelompok sebaya anak mempelajari kebudayaan masyarakat. Kelompok sebaya juga masing-masing individu mempelajari peranan sosial yang baruPengaruh Hubungan dengan Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Sosial Remaja.
2. Kelompok sebaya yang bersifat formal.
Fungsi kelompok sebaya :Dalam kelompok sebaya itu anak belajar memberi dan menerima dalam pergaulannya dengan sesama temannya. Partisipasi di dalam kelompok sebayanya memberikan kesempatan yang besar bagi anak mengalami proses belajar sosial (sosial learning). Bergaul dengan teman sebaya merupakan persiapan penting dalam kehidupan seseorang setelah dewasa. di dalam kelompok sebaya anak mempelajari kebudayaan masyarakat. Kelompok sebaya juga masing-masing individu mempelajari peranan sosial yang baruPengaruh Hubungan dengan Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Sosial Remaja.
Pengaruh positif
:
1. Lebih mengenal nilai-nilai dan norma social yang berlaku
2. Lebih mengenal kepribadian masing-masing orang sekaligus menyadari bahwa
manusia memiliki keunikan yang masing-masing perlu dihargai
3. Mampu menyesuaikan diri dalam berinteraksi dengan banyak orang
4. Mampu membentuk kepribadian yang baik yang bisa diterima di berbagai lapisan
masyarakatPengaruh
Negative :
1. Hilangnya semangat belajar dan cenderung malas dan menyukai hal-hal yang
melanggar norma social
2. Suramnya masa depan akibat terjerumus dalam dunia kelam, misalnya: kecanduan
narkoba, terlibat dalam tindak criminal dan sebagainya
3. Dijauhi masyarakat sekitar karena perilaku tidak sesuai dengan nilai/norma
social yang berlaku
4. Tumbuh menjadi sosok
individu dengan kepribadian yang menyimpang.
Upaya untuk
menanggulangi pengaruh negative
1. Membakitkan kesadaran kepada yang bersangkutan bahwa apa yang telah ia lakukan
adalah menyimpang.
2. Memutuskan rantai yang menghubungkan antara individu dengan lingkungan yang
menyebabkan ia berperilaku menyimpang.
3. Melakukan pengawasan melakat sebagai control secara terus-menerus agar anak
terhindar dari perilaku yang menyimpang.
4. Melakukan kegiatan konseling atau pemberian nasihat secara persuasive, sehingga
anak tidak merasa bahwa ia dibawah proses
pembimbingan
DAFTAR PUSTAKA
Santrock John W. Remaja. Jakarta: ErlanggaSyamsu Yusuf, LN. 2002.
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.(http://www.scribd.com/doc/16176402/Persepsi-Remaja-Terhadap-Kelompok-Teman-Sebaya-Dengan-Kecenderungan-Kenakalan-Remaja)http://infomakalahkuliah.blogspot.com/2012/10/pengaruh-hubungan-dengan-teman-sebaya.html
http://plsbersinergi.blogspot.com/2013/08/pengaruh-kelompok-sebaya-dalam.html