Makalah Perkembangan Peserta Didik : PENGARUH KELOMPOK SEBAYA DALAM PERKEMBANGAN REMAJA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam proses
perkembangan. karena itu perkembangan pada masa remaja sudah seharusnya
mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, terutama dari lingkungan
terdekatnya. Salah satu bagian terpenting dari perkembangan remaja adalah
perkembangan dalam kehidupan sosial. Memang perkembangan fisik tidak dapat
dilepaskan, tetapi kebanyakan kasus remaja terjadi dikarenakan kurang
sempurnanya proses perkembangan sosialnya. Permasalahan dalam perkembangan
sosial remaja dikarenakan para remaja belum mampu menjalankan tugas
perkembangan sosialnya. Tugas perkembangan sosial remaja adalah tugas yang khas
dimiliki oleh para remaja. Para remaja, disadari atau tidak, mereka harus
memenuhi tugasnya tersebut, tetapi disatu sisi tantangan remaja untuk memenuhi
tugas tersebut sangatlah berat. Sehingga para remaja membutuhkan orang lain
misalnya keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosialnya, untuk memenuhi tugas
perkembangan sosialnya.Dalam perkembangan sosial remaja, teman sebaya sangatlah
berperan penting. Peranan teman-teman sebaya terhadap remaja terutama berkaitan
dengan sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku. Remaja sering kali
menilai bahwa bila dirinya memakai model pakaian yang sama dengan anggota
kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk diterima oleh teman-teman
sebayanya menjadi besar. Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum
alkohol, obat-obatan terlarang atau rokok, maka remaja cenderung mengikutinya
tanpa memperdulikan perasaannya sendiri dan akibatnya. Hal ini berarti
menunjukkan bahwa kuatnya pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan hubungan
sosial remaja.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu remaja?
2. Apa itu kelompok sebaya?
3. Apa peranan kelompok teman sebaya dalam kehidupan remaja?
4. Apa jenis dan fungsi kelompok sebaya?
5. Bagaimanakah pengaruh hubungan dengan kelompok sebaya terhadap perkembangan sosial remaja?
6. Bagaimana upaya untuk menanggulangi pengaruh negative kelompok sebaya?
C. TUJUAN
1. Dapat memahami pengertian remaja
1. Dapat memahami pengertian remaja
2. Dapat mengerti dan memahami tentang kelompok sebaya
3. Mengetahui jenis dan fungsi kelompok sebaya
4. Mengetahui peranan kelompok sebaya dalam kehidupan remaja
5. Dapat mengetahui pengaruh hubungan dengan kelompok sebaya
terhadap perkembangan sosial remaja
6. Dapat memahami upaya untuk menanggulangi pengaruh
negative kelompok sebaya
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Remaja
1.Pengertian Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescene (kata bendanya adolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2001). Pedoman umum remaja di Indonesia menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah (Soetjiningsih, 2004).
Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).
Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa remaja, yang sering kali remaja dihadapkan pada situasi yang membingungkan, disatu pihak dia harus bertingkah laku seperti orang dewasa dan disisi lain dia belum bisa dikatakan dewasa. (Purwanto, 1999).
Perubahan masa pubertas pada remaja putri adalah terjadi menarche (menstruasi pertama kali). Hal ini menunjukkan bahwa organ reproduksi mulai matang. Apabila seks pranikah terjadi pada remaja putri dampak yang paling membahayakan yaitu kehamilan.dan efek negatif dari kehamilan adalah abortus.
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescene (kata bendanya adolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2001). Pedoman umum remaja di Indonesia menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah (Soetjiningsih, 2004).
Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).
Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa remaja, yang sering kali remaja dihadapkan pada situasi yang membingungkan, disatu pihak dia harus bertingkah laku seperti orang dewasa dan disisi lain dia belum bisa dikatakan dewasa. (Purwanto, 1999).
Perubahan masa pubertas pada remaja putri adalah terjadi menarche (menstruasi pertama kali). Hal ini menunjukkan bahwa organ reproduksi mulai matang. Apabila seks pranikah terjadi pada remaja putri dampak yang paling membahayakan yaitu kehamilan.dan efek negatif dari kehamilan adalah abortus.
2. kategori Remaja
World Health Organization menetapkan batas usia remaja dalam 2 bagian yaitu:
1) Periode remaja awal (early adolescence)
Periode ini berkisar antara umur 10 sampai 12 tahun. Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
2) Periode remaja akhir
Periode ini antara umur 15 sampai 20 tahun. Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa. Pemantapan identitas diri ini tidak selalu berjalan lancar, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress (Latifah, 2008).
Pengkategorian remaja berdasarkan jenis kelamin (Hurlock, 2001):
1) Remaja laki-laki
Remaja laki-laki mengalami pubertas antara umur 14-17 tahun dengan tanda-tanda yaitu: mimpi basah, timbul rambut di ketiak, dada dan dagu, tidak cepat terbawa emosi, tidak cepat mengeluh, tidak mudah putus asa.
2) Remaja putri
Remaja putri mengalami pubertas berlangsung pada umur 12-15 tahun, dengan tanda-tanda yaitu: menars (menstruasi pertama), timbul rambut di ketiak dan kemaluan, pembesaran payudara dan pinggul.
World Health Organization menetapkan batas usia remaja dalam 2 bagian yaitu:
1) Periode remaja awal (early adolescence)
Periode ini berkisar antara umur 10 sampai 12 tahun. Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
2) Periode remaja akhir
Periode ini antara umur 15 sampai 20 tahun. Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa. Pemantapan identitas diri ini tidak selalu berjalan lancar, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress (Latifah, 2008).
Pengkategorian remaja berdasarkan jenis kelamin (Hurlock, 2001):
1) Remaja laki-laki
Remaja laki-laki mengalami pubertas antara umur 14-17 tahun dengan tanda-tanda yaitu: mimpi basah, timbul rambut di ketiak, dada dan dagu, tidak cepat terbawa emosi, tidak cepat mengeluh, tidak mudah putus asa.
2) Remaja putri
Remaja putri mengalami pubertas berlangsung pada umur 12-15 tahun, dengan tanda-tanda yaitu: menars (menstruasi pertama), timbul rambut di ketiak dan kemaluan, pembesaran payudara dan pinggul.
B. Kelompok Sebaya
Menurut John W Santrock kelompok
sebaya ialah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan
yang kurang lebih sama yang saling berinteraksi dengan kawan-kawan sebaya yang
berusia sama dan memiliki peran yang unik dalam budaya atau kebiasaannya.
Percepatan perkembangan pada masa remaja berhubungan dengan pematangan seksual yang akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Sebelum memasuki masa remaja biasanya seorang anak sudah mampu menjalankan hubungan yang erat dengan teman sebayanya. Seiring dengan hal itu juga timbul kelompok anak-anak yang bermain bersama atau membuat rencana bersama. Sifat yang khas pada kelompok anak sebelum masa remaja adalah bahwa kelompok tadi terdiri dari jenis kelamin yang sama. Persamaan kelamin yang sama ini dapat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan juga berhubungan dengan perasaan identifikasi untuk mempersiapkan pengalaman identitasnya. Sedangkan pada masa remaja ini, anak sudah mulai berani untuk melakukan kegiatan dengan lawan jenisnya dalam berbagai macam kegiatan.Selama tahun pertama masa remaja, seorang anak remaja cenderung memiliki keanggotaan yang lebih luas. Dengan kata lain, tetangga atau teman-temannya seringkali menjadi anggota kelompoknya. Biasanya kelompoknya lebih hiterogen daripada berkelompok dengan teman sebayanya. Misalnya kelompok teman sebaya pada masa remaja cenderung memiliki suatu campuran individu-individu dari berbagai kelompok. Interaksi yang semakin intens menyebabkan kelompok bertambah kohesif. Dalam kelompok dengan kohesif yang kuat maka akan berkembanglah iklim dan norma-norma tertentu. Namun hal ini berbahaya bagi pembentukan identitas dirinya. Karena pada masa ini, dia lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok daripada pola pribadinya. Tetapi terkadang adanya paksaan dari norma kelompok membuatnyua sulit untuk membentuk keyakinan diri.
Percepatan perkembangan pada masa remaja berhubungan dengan pematangan seksual yang akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Sebelum memasuki masa remaja biasanya seorang anak sudah mampu menjalankan hubungan yang erat dengan teman sebayanya. Seiring dengan hal itu juga timbul kelompok anak-anak yang bermain bersama atau membuat rencana bersama. Sifat yang khas pada kelompok anak sebelum masa remaja adalah bahwa kelompok tadi terdiri dari jenis kelamin yang sama. Persamaan kelamin yang sama ini dapat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan juga berhubungan dengan perasaan identifikasi untuk mempersiapkan pengalaman identitasnya. Sedangkan pada masa remaja ini, anak sudah mulai berani untuk melakukan kegiatan dengan lawan jenisnya dalam berbagai macam kegiatan.Selama tahun pertama masa remaja, seorang anak remaja cenderung memiliki keanggotaan yang lebih luas. Dengan kata lain, tetangga atau teman-temannya seringkali menjadi anggota kelompoknya. Biasanya kelompoknya lebih hiterogen daripada berkelompok dengan teman sebayanya. Misalnya kelompok teman sebaya pada masa remaja cenderung memiliki suatu campuran individu-individu dari berbagai kelompok. Interaksi yang semakin intens menyebabkan kelompok bertambah kohesif. Dalam kelompok dengan kohesif yang kuat maka akan berkembanglah iklim dan norma-norma tertentu. Namun hal ini berbahaya bagi pembentukan identitas dirinya. Karena pada masa ini, dia lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok daripada pola pribadinya. Tetapi terkadang adanya paksaan dari norma kelompok membuatnyua sulit untuk membentuk keyakinan diri.
C. Peran Kelompok Sebaya
Terhadap Perkembangan Remaja
Remaja memiliki kebutuhan yang kuat
untuk disukai dan diterima oleh teman sebaya. Sebagai akibatnya, mereka akan
merasa senang apabila diterima dan sebaliknya merasa tertekan dan cemas apabila
dikeluarkan dan diremehkan oleh teman-teman sebayanya. Bagi kebanyakan remaja,
pandangan teman sebaya terhadap dirinya merupakan hal yang paling penting.
Teman sebaya merupakan anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat
kematangan yang kurang lebih sama. interaksi diantara teman sebaya yang berusia
sama sangat berperan penting dalam perkembangan sosial. Pertemanan berdasarkan
tingkat usia dengan sendirinya akan terjadi meskipun sekolah tidak menerapkan
sistem usia. Remaja dibiarkan untuk menentukan sendiri komposisi masyarakat
mereka. Bagaimanapun, seseorang dapat belajar menjadi petarung yang baik hanya
jika diantara teman yang seusianya. Salah satu fungsi terpenting dari teman
sebaya adalah sebagai sumber informasi mengenai dunia di luar keluarga. Remaja
memperoleh umpan balik mengenai kemampuannya dari teman-teman sebayanya. Dan
remaja mempelajari bahwa apa yang mereka lakukan itu lebih baik. Hubungan yang
baik dengan teman sebaya perlu agar perkembangan sosialnya berjalan normal. Hubungan
dengan teman sebaya dapat bersifat negatif atau positif.Piaget dan Sullivan
menekankan bahwa hubungan dengan teman sebaya memberikan konteks bagi remaja
untuk mempelajari modus hubungan timbal balik yang simetris.Hartup menyatakan
bahwa hubungan dengan teman sebaya bersifat kompleks dan dapat bervariasi
tergantung pada bagaimana pengukurannya, perumusan hasilnya, dan garis
perkembangannya.
Kebutuhan remaja terhadap hubungan dengan teman sebaya sangatlah penting untuk perkembangan sosialnya. Maka jika ada keterbatasan hubungan dengan teman sebayanya akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak tersebut, misalnya orang tua yang membatasi anaknya secara berlebihan untuk tidak berhubungan dengan teman sebayanya, hal ini akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, yaitu ketika si anak terjun ke dalam masyarakat. Sehingga ia sulit untuk bersosialisasi di masyarakat. Peranan kelompok sebaya dalam kehidupan remaja yaitu :1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan persiapan bagi kehidupan di masa mendatang.2. Berperan pula terhadap pandangan dan perilakunya. Sebabnya adalah, karena remaja pada umur ini sedang berusaha untuk bebas dari keluarga dan tidak tergantung pada orang tua. Akan tetapi pada waktu yang sama ia takut kehilangan rasa nyaman yang telah diperolehnya selama masa kanak-kanaknya.3. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya. Pengganti tersebut ditemukannya dalam kelompok teman, karena mereka saling dapat membantu dalam persiapan menuju kemandirian emosional yang bebas dan dapat pula menyelamatkannya dari pertentangan batin dan konflik sosial.4. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya. Karena remaja merasa dirinya kerdil bila berada dekat orang tuanya atau orang dewasa pada umumnya, karena kurang pengalaman, lemahnya pribadi dan kurangnya umur. Hal tersebut menyebabkan remaja menjauh dari orang tua, sebab ia tidak mau dianggap anak-anak lagi, kendatipun ia masih suka bermain dan bersenang-senang. Akan tetapi bila ia berada di tengah-tengah teman sebaya, ia tidak akan merasa kecil atau kerdil, baik dari segi fisik maupun mental.5. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota. Apabila semakin terasa keinginan untuk babas, maka semakin terikat hatinya kepada kelompok teman sebaya yang dapat memberikan kepuasan dan kebebasan. Hal inilah yang seringkali dirisaukan oleh orang tua, karena siskap mereka yang semakin menjauh dan kadang benci kepadanya.
Kebutuhan remaja terhadap hubungan dengan teman sebaya sangatlah penting untuk perkembangan sosialnya. Maka jika ada keterbatasan hubungan dengan teman sebayanya akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak tersebut, misalnya orang tua yang membatasi anaknya secara berlebihan untuk tidak berhubungan dengan teman sebayanya, hal ini akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, yaitu ketika si anak terjun ke dalam masyarakat. Sehingga ia sulit untuk bersosialisasi di masyarakat. Peranan kelompok sebaya dalam kehidupan remaja yaitu :1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan persiapan bagi kehidupan di masa mendatang.2. Berperan pula terhadap pandangan dan perilakunya. Sebabnya adalah, karena remaja pada umur ini sedang berusaha untuk bebas dari keluarga dan tidak tergantung pada orang tua. Akan tetapi pada waktu yang sama ia takut kehilangan rasa nyaman yang telah diperolehnya selama masa kanak-kanaknya.3. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya. Pengganti tersebut ditemukannya dalam kelompok teman, karena mereka saling dapat membantu dalam persiapan menuju kemandirian emosional yang bebas dan dapat pula menyelamatkannya dari pertentangan batin dan konflik sosial.4. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya. Karena remaja merasa dirinya kerdil bila berada dekat orang tuanya atau orang dewasa pada umumnya, karena kurang pengalaman, lemahnya pribadi dan kurangnya umur. Hal tersebut menyebabkan remaja menjauh dari orang tua, sebab ia tidak mau dianggap anak-anak lagi, kendatipun ia masih suka bermain dan bersenang-senang. Akan tetapi bila ia berada di tengah-tengah teman sebaya, ia tidak akan merasa kecil atau kerdil, baik dari segi fisik maupun mental.5. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota. Apabila semakin terasa keinginan untuk babas, maka semakin terikat hatinya kepada kelompok teman sebaya yang dapat memberikan kepuasan dan kebebasan. Hal inilah yang seringkali dirisaukan oleh orang tua, karena siskap mereka yang semakin menjauh dan kadang benci kepadanya.
D. Jenis dan Fungsi Kelompok SebayaJenis-jenis Kelompok Sebaya
Setiap kelompok sebaya mempunyai
atauran baik yang bersifat implicit maupun eksplisit, harapan-harapan terhadap
anggotanya. Ditinjau dari sifat organisasinya kelompok sebaya dapat dibedakan
menjadi:
- Kelompok sebaya yang bersifat informal. Kelompok sebaya ini dibentuk, diatur, dan dipimpin oleh anak itu sendiri misalnya, kelompok permainan, gang, dan lain-lain. Di dalam kelompok ini tidak ada bimbingan dan partisipasi orang dewasa.
- Kelompok sebaya yang bersifat formal. Di dalam kelompok ini ada bimbingan, partisipasi atau pengarahan orang dewasa. Apabila bimbingan dan pengarahan diberikan secara bijaksana maka kelompok sebaya ini dapat menjadi wahana proses sosialisasi nilai-nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat. Yang termasuk dalam kelompok sebaya ini misalnya, kepramukaan, klub, perkumpulan pemuda dan organisasi lainnya.
Menurut
Robbins, ada empat jenis kelompok sebaya yang mempunyai peranan penting dalam
proses sosialisasi yaitu kelompok permaianan, gang, klub, dan klik (clique). Kelompok
permainan (play group) terbentuk secara spontan dan merupakan kegiatan khas
anak-anak, namun di dalamnya tercermin pula struktur dan proses masyarakat
luas, sedang gang, bertujuan untuk melakukan kegiatan kejahatan,
kekerasan, dan perbuatan anti sosial. Klub adalah kelompok sebaya yang
bersifat formal dalam artian mempunyai organisasi sosial yang teratur serta
dalam bimbingan orang dewasa. Sementara itu klik (clique), para
anggotanya selalu merencanakan untuk mengerjakan sesuatu secara bersama yang
bersifat positif dan tidak menimbulkan konflik sosial.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kelompok sebaya sangat berperan penting dalam proses sosialisasi individu terutama kelompok sebaya remaja. Pengaruh kelompok sebaya tidak hanya berdampak negatif akan tetapi juga berdampak positif. Untuk itu pembentengan diri melalui keluarga masih sangat diperlukan bahwa ketika anak memiliki teman maka kenalilah siapa yang menjadi teman anak kita.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kelompok sebaya sangat berperan penting dalam proses sosialisasi individu terutama kelompok sebaya remaja. Pengaruh kelompok sebaya tidak hanya berdampak negatif akan tetapi juga berdampak positif. Untuk itu pembentengan diri melalui keluarga masih sangat diperlukan bahwa ketika anak memiliki teman maka kenalilah siapa yang menjadi teman anak kita.
Fungsi Kelompok
Sebaya Di dalam
kelompok sebaya anak belajar bergaul dengan sesamanya. Mula-mula kelompok
sebaya pada anak-anak itu terbentuk dengan secara kebetulan. Dalam perkembangan
selanjutnya masuknya anak ke dalam suatu kelompok sebaya berdasarkan pilihan.
Setelah anak masuk ke sekolah kelompok sebayanya dapat berupa teman sekelasnya,
klik dalam kelasnya, dan kelompok permainannya. Dalam kelompok sebaya itu
anak belajar memberi dan menerima dalam pergaulannya dengan sesama temannya.
Partisipasi di dalam kelompok sebayanya memberikan kesempatan yang besar bagi
anak mengalami proses belajar sosial (sosial learning). Bergaul dengan teman
sebaya merupakan persiapan penting dalam kehidupan seseorang setelah
dewasa. Selain itu, di dalam kelompok sebaya anak mempelajari kebudayaan
masyarakat. Bahwa melalui kelompok sebaya itu anak belajar bagaimana menjadi
manusia yang baik sesuai dengan gambaran dan cita-cita masyarakatnya, tentang
kejujuran, keadilan, kerja sama, dan tanggung jawab. Sehingga kelompok sebaya
menjadi wadah dalam mengajarkan mobilitas sosial. Melalui pergaulan di dalam
lingkungan kelompok sebaya itu anak-anak yang berasal dari kelas sosial bawah
menangkap nilai-nilai, ide-ide, cita-cita, dan pola tingkah laku anak dari
golongan menengah ke atas demikian juga sebaliknya. Kelompok sebaya juga
masing-masing individu mempelajari peranan sosial yang baru. Anak yang biasa
dididik dengan pola dengan otoriter dapat mengenal kehidupan demokratis dalam
kelompok sebaya. Di dalam kelompok sebaya mungkin anak berperan sebagai
sahabat, musuh, pemimpin, pencetus ide, dan sebagainya. Sehingga di dalam
kelompok sebaya anak mempunyai kesempatan melakukan bermacam-macam kelompok
sosial.
E. Pengaruh
Hubungan dengan Kelompok Sebaya Terhadap Perkembangan Sosial Remaja.
Menurut gerungan (1986), kenakalan
remaja muncul akibat terjadinya interaksi sosial antara individu (remaja)
dengan teman sebayanya. Peran interaksi dengan teman sebaya tersebut dapat
berupa imitasi, identifikasi, sugesti dan simpati. Remaja dapat meniru
(imitasi) kenakalan yang dilakukan teman sebayanya, sementara itu sugesti bahwa
kebut-kebutan dan penggunaan narkotika adalah remaja ideal, dapat mengakibatkan
remaja yang mulanya baik menjadi nakal. Kuatnya pegaruh teman-teman sebaya yang
mengarahkan remaja menjadi nakal atau tidak juga ditentukan bagaimana persepsi
remaja terhadap teman sebayanya. persepsi memegang peran penting bagi tinggi
atau rendahnya kenakalan remja, yang dalam tahapan selanjutnya dapat menjadi
aksi nyata berupa perilaku nakal yang merugikan ligkungan dan dapat dikenai
sangsi pidana. Dengan kata lain, jika remaja melihat bahwa teman sebayanya
adalah media yang tepat untuk menyalurkan keinginan negative atau tujuan
negative lainnya, maka tinggi pulalah kecenderungan remaja untuk berperilaku
nakal. Penelitian seperti itu tentu saja penelitian negative remaja terhadap
teman sebayanya.
Persepsi merupakan proses pemahaman terhadap suatu objek yang merangsang panca indra dan memungkinkan individu (remaja) untuk membuat kontruksi dan prediksi tentang keseluruhan dari stimulus tersebut. Kemudian dari persepsi tersebut, individu dapat menilai kejadian yang ada diluarnya.
Remaja yang berpersepsi positif terhadap teman sebayanya, memandang bahwa teman sebaya sebagai tempat memperoleh informasi yang tidak didapatkan di dalam keluarga, tempat menambah kemampuan dan menjadi tempat kedua setelah keluarga untuk mengarahkan dirinya (menuju kepada perilaku yang baik) serta memberikan masukan (koreksi) terhadap kekurangan yang dimilikinya, yang tentu saja akan membawa dampak baik bagi remaja yang bersangkutan (santrock, 1997). Sebaliknya, remaja yang berpersepsi negative terhadap teman-teman sebayanya, maka remaja melihat bahwa kelompok teman sebaya adalah sebagai kompensasi penebusan atas kekurangan yang dimilikinya atau sebagai ajang balas dendam terhadap lingkungan yang menolak atau memenuhi dirinya. Remaja yang merasa frustasi (karena ketidakmampuannya menghadapi kekurangan dan penolakan dari lingkungan/merasa dikucilkan) secara spontan saling bersimpati dan tarik-menarik, kemudian menggerombol untuk mendapatkan dukungan moral, dan memuaskan segenap kebutuhannya.Kecenderungan remaja akan rendah ketika remaja mampu berpersepsi bahwa teman sebaya adalah tempat untuk belajar bebas dari orang-orang dewasa (mandiri), belajar kepada kelompok, belajar menyesuaikan diri dengan standar kelompok, belajar bermain dan olahraga, belajar berbagi rasa, belajar bersikap sportif, belajar menerima dan melakanakan tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain, belajar perilaku sosial yang baik, dan belajar bekerja sama.
Pengaruh teman sebaya terhadap remaja itu ternyata berkaitan dengan iklim keluarga itu sendiri . Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya(iklim keluarga sehat) cenderung dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebayanya, dibandingkan dengan remaja yang hubungan dengan orang tuanya kurang baik.
Persepsi merupakan proses pemahaman terhadap suatu objek yang merangsang panca indra dan memungkinkan individu (remaja) untuk membuat kontruksi dan prediksi tentang keseluruhan dari stimulus tersebut. Kemudian dari persepsi tersebut, individu dapat menilai kejadian yang ada diluarnya.
Remaja yang berpersepsi positif terhadap teman sebayanya, memandang bahwa teman sebaya sebagai tempat memperoleh informasi yang tidak didapatkan di dalam keluarga, tempat menambah kemampuan dan menjadi tempat kedua setelah keluarga untuk mengarahkan dirinya (menuju kepada perilaku yang baik) serta memberikan masukan (koreksi) terhadap kekurangan yang dimilikinya, yang tentu saja akan membawa dampak baik bagi remaja yang bersangkutan (santrock, 1997). Sebaliknya, remaja yang berpersepsi negative terhadap teman-teman sebayanya, maka remaja melihat bahwa kelompok teman sebaya adalah sebagai kompensasi penebusan atas kekurangan yang dimilikinya atau sebagai ajang balas dendam terhadap lingkungan yang menolak atau memenuhi dirinya. Remaja yang merasa frustasi (karena ketidakmampuannya menghadapi kekurangan dan penolakan dari lingkungan/merasa dikucilkan) secara spontan saling bersimpati dan tarik-menarik, kemudian menggerombol untuk mendapatkan dukungan moral, dan memuaskan segenap kebutuhannya.Kecenderungan remaja akan rendah ketika remaja mampu berpersepsi bahwa teman sebaya adalah tempat untuk belajar bebas dari orang-orang dewasa (mandiri), belajar kepada kelompok, belajar menyesuaikan diri dengan standar kelompok, belajar bermain dan olahraga, belajar berbagi rasa, belajar bersikap sportif, belajar menerima dan melakanakan tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain, belajar perilaku sosial yang baik, dan belajar bekerja sama.
Pengaruh teman sebaya terhadap remaja itu ternyata berkaitan dengan iklim keluarga itu sendiri . Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya(iklim keluarga sehat) cenderung dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebayanya, dibandingkan dengan remaja yang hubungan dengan orang tuanya kurang baik.
PENGARUH POSITIF PERGAULAN
1.
Lebih mengenal nilai-nilai dan norma social yang berlaku sehingga mampu
membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak dalam melakukan sesuatu.
2. Lebih mengenal kepribadian masing-masing orang sekaligus menyadari bahwa
manusia memiliki keunikan yang masing-masing perlu
dihargai.
3. Mampu menyesuaikan diri dalam
berinteraksi dengan banyak orang sehingga mampu meningkatka rasa percaya diri
4.
Mampu membentuk kepribadian yang baik yang bisa diterima di berbagai lapisan
masyarakat sehingga bisa tumbuh dan berkembang menjadi sosok individu yang
pantas diteladani.
PENGARUH NEGATIF
1. Hilangnya
semangat belajar dan cenderung malas dan menyukai hal-hal yang melanggar norma
social
2. Suramnya masa depan akibat terjerumus
dalam dunia kelam, misalnya: kecanduan narkoba, terlibat dalam tindak criminal
dan sebagainya
3. Dijauhi masyarakat sekitar
karena perilaku tidak sesuai dengan nilai/norma social yang berlaku
4. Tumbuh menjadi sosok individu dengan kepribadian yang menyimpang.
G. UPAYA UNTUK
MENANGGULANGI PANGARUH NEGATIF
Ibarat orang yang
terlanjur sakit atau terserang penyakit, tidaklah mudah mengembalikan situasi
seperti semula. Tindakan pengobatan atau terapi yang terus menerus diperlukan
untuk mengembalikan kondisi pribadi yang terlanjur menyimpang akibat pengaruh
pergaulan negatif.
Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengaruh negatif yang terlanjur mencemari diri individu:
Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengaruh negatif yang terlanjur mencemari diri individu:
1.
Membakitkan kesadaran kepada yang bersangkutan bahwa apa yang telah ia lakukan
adalah menyimpang. Kadangkala perilaku menyimpang tidak menyadari bahwa apa
yang telah ia lakukan salah. Jika dari yang bersangkutan belum ada kesadaran
bahwa apa yang dilakukan selama ini keliru adalah sia-sia. Misalnya, anak yang
tidak menyadari bahwa merokok itu tidak baik bagi kesehatannya akan sulit untuk
diarahkan agar ia menjauhi rokok
2.
Memutuskan rantai yang menghubungkan antara individu dengan lingkungan
yang menyebabkan ia berperilaku menyimpang. Hal ini dapat dilakukan dengan
memindahkan individu tersebut dari lingkungan pergaulannya dan membawa ke
kancah pergaulan baru. Hal ini tidaklah mudah, sebab kadangkala yang
bersangkutan tidak mampu menyesuaikan diri di tempat lingkungannya yang baru
atau justru lingkungan baru yang tidak mampu menerimanya.
3. Melakukan pengawasan melakat sebagai control secara terus-menerus agar anak terhindar dari perilaku yang menyimpang. Pengawasan harus dilakukan oleh orang yang disegani, sehingga anak tidak berani mengulangi perbuatannya yang salah.
4. Melakukan kegiatan konseling atau pemberian nasihat secara persuasive, sehingga anak tidak merasa bahwa ia dibawah proses pembimbingan. Melibatkan anak dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan keyakinan yang ia anut merupakan salah satu cara yag dapat dilakukan untuk membuka pikitan anak mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
3. Melakukan pengawasan melakat sebagai control secara terus-menerus agar anak terhindar dari perilaku yang menyimpang. Pengawasan harus dilakukan oleh orang yang disegani, sehingga anak tidak berani mengulangi perbuatannya yang salah.
4. Melakukan kegiatan konseling atau pemberian nasihat secara persuasive, sehingga anak tidak merasa bahwa ia dibawah proses pembimbingan. Melibatkan anak dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan keyakinan yang ia anut merupakan salah satu cara yag dapat dilakukan untuk membuka pikitan anak mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
BAB IIIPENUTUP
KESIMPULAN
Perkembangan
Sosial Merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Sebagai proses
belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan
tradisi dan juga untuk meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling
berkomunikasi dan bekerja sama.Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang
telah mencapai jenjang menjelang dewasa, pada jenjang ini kebutuhan remaja
telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah
cukup luas.Kelompok sebaya ialah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau
tingkat kematangan yang kurang lebih sama yang saling berinteraksi dengan
kawan-kawan sebaya yang berusia sama dan memiliki peran yang unik dalam budaya
atau kebiasaannya.
Peranan Kelompok Sebaya dalam Kehidupan Remaja
Peranan Kelompok Sebaya dalam Kehidupan Remaja
1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan
persiapan bagi kehidupan di masa mendatang, Berperan pula terhadap pandangan
dan perilakunya.
2. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya.
3. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya.
4. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota.
5. Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja sangatlah dominan dalam kehidupannya
Jenis dan fungsi kelompok sebayaJenis kelompok sebaya yaitu :
2. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya.
3. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya.
4. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota.
5. Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja sangatlah dominan dalam kehidupannya
Jenis dan fungsi kelompok sebayaJenis kelompok sebaya yaitu :
1. Kelompok sebaya yang bersifat informal.
2. Kelompok sebaya yang bersifat formal.
Fungsi kelompok sebaya :Dalam kelompok sebaya itu anak belajar memberi dan menerima dalam pergaulannya dengan sesama temannya. Partisipasi di dalam kelompok sebayanya memberikan kesempatan yang besar bagi anak mengalami proses belajar sosial (sosial learning). Bergaul dengan teman sebaya merupakan persiapan penting dalam kehidupan seseorang setelah dewasa. di dalam kelompok sebaya anak mempelajari kebudayaan masyarakat. Kelompok sebaya juga masing-masing individu mempelajari peranan sosial yang baruPengaruh Hubungan dengan Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Sosial Remaja.
2. Kelompok sebaya yang bersifat formal.
Fungsi kelompok sebaya :Dalam kelompok sebaya itu anak belajar memberi dan menerima dalam pergaulannya dengan sesama temannya. Partisipasi di dalam kelompok sebayanya memberikan kesempatan yang besar bagi anak mengalami proses belajar sosial (sosial learning). Bergaul dengan teman sebaya merupakan persiapan penting dalam kehidupan seseorang setelah dewasa. di dalam kelompok sebaya anak mempelajari kebudayaan masyarakat. Kelompok sebaya juga masing-masing individu mempelajari peranan sosial yang baruPengaruh Hubungan dengan Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Sosial Remaja.
Pengaruh positif
:
1. Lebih mengenal nilai-nilai dan norma social yang berlaku
2. Lebih mengenal kepribadian masing-masing orang sekaligus menyadari bahwa
manusia memiliki keunikan yang masing-masing perlu dihargai
3. Mampu menyesuaikan diri dalam berinteraksi dengan banyak orang
4. Mampu membentuk kepribadian yang baik yang bisa diterima di berbagai lapisan
masyarakatPengaruh
Negative :
1. Hilangnya semangat belajar dan cenderung malas dan menyukai hal-hal yang
melanggar norma social
2. Suramnya masa depan akibat terjerumus dalam dunia kelam, misalnya: kecanduan
narkoba, terlibat dalam tindak criminal dan sebagainya
3. Dijauhi masyarakat sekitar karena perilaku tidak sesuai dengan nilai/norma
social yang berlaku
4. Tumbuh menjadi sosok
individu dengan kepribadian yang menyimpang.
Upaya untuk
menanggulangi pengaruh negative
1. Membakitkan kesadaran kepada yang bersangkutan bahwa apa yang telah ia lakukan
adalah menyimpang.
2. Memutuskan rantai yang menghubungkan antara individu dengan lingkungan yang
menyebabkan ia berperilaku menyimpang.
3. Melakukan pengawasan melakat sebagai control secara terus-menerus agar anak
terhindar dari perilaku yang menyimpang.
4. Melakukan kegiatan konseling atau pemberian nasihat secara persuasive, sehingga
anak tidak merasa bahwa ia dibawah proses
pembimbingan
DAFTAR PUSTAKA
Santrock John W. Remaja. Jakarta: ErlanggaSyamsu Yusuf, LN. 2002.
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.(http://www.scribd.com/doc/16176402/Persepsi-Remaja-Terhadap-Kelompok-Teman-Sebaya-Dengan-Kecenderungan-Kenakalan-Remaja)http://infomakalahkuliah.blogspot.com/2012/10/pengaruh-hubungan-dengan-teman-sebaya.html
http://plsbersinergi.blogspot.com/2013/08/pengaruh-kelompok-sebaya-dalam.html
PENGENALAN DASAR PEMROGRAMAN
I.Pengertian
Program adalah pernyataan yang disusun menjadi satu kesatuan prosedur yang berupa urutan langkah yang disusun secara logis dan sistematis untuk menelesaikan masalah.Bahasa Pemrograman adalah prosedur penulisan program.Terdapat 3 faktor penting dalam bahasa pemrograman:
1.Sintaks adalah aturan penulisan bahasa tersebut (tata bahasanya).
2.Semantik adalah arti atau maksud yang terkandung didalam statement tersebut.
3.Kebenaran logika adalah berhubungan dengan benar tidaknya urutan statement.
Pemrograman adalah proses mengimplementasikan urutan langkah untuk menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan bahasa pemrograman. Dalam pengolahan datam emerlukan beberapa aspek-aspek dasar yaitu:
A. Brainware
Tenaga pelaksana yang menjalankan serta mengawasi pengoperasian system unit computer didalam proses pengolahan data untuk menghasilkan suatu informasi yang tepat waktu,tepat guna dan akurat.
Contoh: Sistem Analis,Programmer,operator,Technical Support,dll.
B. Hardware
Serangkaian unsur-unsur yang terdiri dari beberapa perangkat keras computer yang digunakan untuk membantu proses kerja manusia(Brainware).
Contoh: CPU,Monitor,Keyboard,Harddisk,Diskdrive, dll.
C. Software
Serangkaian unsur-unsur yang terdiri dari beberapa perangkat lunak program computer yang digunakan untuk membantu proses kerja manusia(Brainware).
Contoh:Sistem Software,Application Software,Package Software, dll
2.Semantik adalah arti atau maksud yang terkandung didalam statement tersebut.
3.Kebenaran logika adalah berhubungan dengan benar tidaknya urutan statement.
Pemrograman adalah proses mengimplementasikan urutan langkah untuk menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan bahasa pemrograman. Dalam pengolahan datam emerlukan beberapa aspek-aspek dasar yaitu:
A. Brainware
Tenaga pelaksana yang menjalankan serta mengawasi pengoperasian system unit computer didalam proses pengolahan data untuk menghasilkan suatu informasi yang tepat waktu,tepat guna dan akurat.
Contoh: Sistem Analis,Programmer,operator,Technical Support,dll.
B. Hardware
Serangkaian unsur-unsur yang terdiri dari beberapa perangkat keras computer yang digunakan untuk membantu proses kerja manusia(Brainware).
Contoh: CPU,Monitor,Keyboard,Harddisk,Diskdrive, dll.
C. Software
Serangkaian unsur-unsur yang terdiri dari beberapa perangkat lunak program computer yang digunakan untuk membantu proses kerja manusia(Brainware).
Contoh:Sistem Software,Application Software,Package Software, dll
II. Bahasa Pemrograman Berdasarkan Perkembangan
A. Machine Language
Bahasa Pemrograman yang hanya dapat dimengerti oleh mesin (komputer) yang didalamnya terdapat CPU yang hanya mengenal 2(dua) keadaaan yang berlawanan, yaitu :
-Bila tejadi kontak (ada arus)bernilai1
-Bila kontak terputus (tidak ada arus) bernilai 0.
Bahasa Pemrograman yang hanya dapat dimengerti oleh mesin (komputer) yang didalamnya terdapat CPU yang hanya mengenal 2(dua) keadaaan yang berlawanan, yaitu :
-Bila tejadi kontak (ada arus)bernilai1
-Bila kontak terputus (tidak ada arus) bernilai 0.
B. Low Level Language (Bahasa tingkat rendah)
Karena susahnya bahasa mesin, maka dibuatlah symbol yang mudah diingat yang disebut dengan “Mnemonics” (Pembantu untuk mengingat).
Contohnya :
A: Untuk kata Add (Menambahkan)
B: Untuk kata Substract (mengurangi)
Mov: Untuk kata Move (Memindahkan)
Bahasa Pemrograman yang menerjemahkan Mnemonics disebut Assembler.
Karena susahnya bahasa mesin, maka dibuatlah symbol yang mudah diingat yang disebut dengan “Mnemonics” (Pembantu untuk mengingat).
Contohnya :
A: Untuk kata Add (Menambahkan)
B: Untuk kata Substract (mengurangi)
Mov: Untuk kata Move (Memindahkan)
Bahasa Pemrograman yang menerjemahkan Mnemonics disebut Assembler.
C. Middle Level Language (Bahasa tingkat menengah)
Bahasa pemrograman yang menggunakan aturan-aturan gramatikal dalam penulisan pernyataan, mudah untuk dipahami dan memilik instruksi-instruksi tertentu yang dapat langsung diakses oleh komputer.
Contohnya adalah BahasaC.
Bahasa pemrograman yang menggunakan aturan-aturan gramatikal dalam penulisan pernyataan, mudah untuk dipahami dan memilik instruksi-instruksi tertentu yang dapat langsung diakses oleh komputer.
Contohnya adalah BahasaC.
D. High Level Language (Bahasa tingkat tinggi)
Bahasa Pemrograman yang dalam penulisan pernyataannya mudah dipahami secara langsung. Bahasa pemrograman ini terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Procedure Oriented Language
a. Scientific
Digunakan untuk memecahkan persoalan Matematis / perhitungan
Misal: Algol, Fortran, Pascal, Basic
b. Bussines
Digunakan untuk memecahkan persoalan dalam bidang bisnis.
Misal: Cobol,PL/1.
2. Problem Oriented Language
Misal: RPG (Report Program Generator).
Bahasa Pemrograman yang dalam penulisan pernyataannya mudah dipahami secara langsung. Bahasa pemrograman ini terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Procedure Oriented Language
a. Scientific
Digunakan untuk memecahkan persoalan Matematis / perhitungan
Misal: Algol, Fortran, Pascal, Basic
b. Bussines
Digunakan untuk memecahkan persoalan dalam bidang bisnis.
Misal: Cobol,PL/1.
2. Problem Oriented Language
Misal: RPG (Report Program Generator).
E. Object Oriented Language (Bahasa berorientasi obyek)
Bahasa pemrograman yang berorientasi pada obyek. Bahasa pemrograman ini mengandung fungsi-fungsi untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan program tidak harus menulis secara detail semua pernyataannya, tetapi cukup memasukkan kriteria-kriteria yang dikehendaki saja.
Contohnya: Visuald Base,Visual FoxPro,Delphi, Visual C,dll.
Bahasa pemrograman yang berorientasi pada obyek. Bahasa pemrograman ini mengandung fungsi-fungsi untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan program tidak harus menulis secara detail semua pernyataannya, tetapi cukup memasukkan kriteria-kriteria yang dikehendaki saja.
Contohnya: Visuald Base,Visual FoxPro,Delphi, Visual C,dll.
Pengertian dan Komponen Komponen Komputer
Penulis : Yoga Ailala
Ebook ini membahas segala sesuatu tentang komputer, dari mulai seputar pengertian komputer itu sendiri, berbagai macam komponen–komponen komputer, penggolongan komputer, hingga aneka perangkat penunjang (peripheral) komputer.
Untuk memahami lebih juah lagi silahkan download dan pelajari E-book berikut.
DOWNLOAD
Ebook ini membahas segala sesuatu tentang komputer, dari mulai seputar pengertian komputer itu sendiri, berbagai macam komponen–komponen komputer, penggolongan komputer, hingga aneka perangkat penunjang (peripheral) komputer.
Untuk memahami lebih juah lagi silahkan download dan pelajari E-book berikut.
DOWNLOAD
9 Hal yang Harus Diketahui Blogger
Penulis : Ibnu kurniawan
Ebook ini membahas beragam hal hal umum seputar dunia blogging beserta beragam tips tips menarik tentang blog bagi para blogger, dari mulai pengenalan tentang apa itu blog, rahasia orang orang yang bisa menjadi besar dan terkenal melalui blog, hingga ke bagaimana cara agar kita bisa menghasilkan uang melalui blog.
Silahkan download E-booknya, DISINI!!!
Ebook ini membahas beragam hal hal umum seputar dunia blogging beserta beragam tips tips menarik tentang blog bagi para blogger, dari mulai pengenalan tentang apa itu blog, rahasia orang orang yang bisa menjadi besar dan terkenal melalui blog, hingga ke bagaimana cara agar kita bisa menghasilkan uang melalui blog.
Silahkan download E-booknya, DISINI!!!
Seni Googling (rahasia dibalik google)
Penulis : Muhammad Ikbal
Google dapat kita jadikan sebagai sebuah mesin pencarian yang sangat efektif jika kita mau asalkan kita mengetahui kata kunci perintah-perintah tertentu (syntax) yang bisa kita pergunakan
Untuk mempelajari lebih dalam tantang rahasia di balik google, download E-booknya Di bawah ini
AMARAH 24 april 1996
KAIN PROTES TELAH ROBEK
SUASANA MENGEKANG MENCEKAM
TERIKNYA MATAHARI, JERIT MATA HATI
SAKSIMU MENGALIR BISU
BERLIMANG LUMPUR & BATU
DIA SAKSIKAN AMARAH
WAJAH PUCAT MEMBIRU
DESIK PELURU PANSER MENDERU
KIBASAN PENTUNGAN LARAS KERAS MENGHUJAM
ANGIN MENANGIS DAUN TAK BERGOYANG
BUMI MERINTIH NYANYIAN SENJA KEPILUAN
DESIK PELURU PANSER MENDERU
KIBASAN PENTUNGAN LARAS KERAS MENGHUJAM
ANGIN MENANGIS DAUN TAK BERGOYANG
BUMI MERINTIH NYANYIAN SENJA
ANGIN MENANGIS DAUN TAK BERGOYANG
BUMI MERINTIH NYANYIAN SENJA KEPILUAN
Via Mp3 DOWNLOAD DISINI
Psikologi: Konflik dan Kebahagiaan
A. KONFLIK
Konflik merupakan suatu kondisi, baik dalam internal individu atau pun dalam lingkungan sosial, di mana terdapat dua hal yang bertentangan atau berlawanan dalam waktu yang bersamaan
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas menganai bentuk bentuk konflik internal/interpersonal. sebenarnya ada banyak bentuk dan jenis dari konflik tp pada kesempatan ini kita hanya akan membahas tiga macam konflik interpersonal, diantaranya:
1. approach-approach conflict (Konflik pendekatan-pendekatan)
dimana seseorang mengalami konflik karena diperhadapkan pada dua tujuan yang sama-sama menguntungkan atau sama-sama disukai, karena memiliki daya tarik yang sama juga. Sebagai contoh, di waktu yang sama, seseorang harus membuat pilihan menerima promosi jabatan yang sudah lama didambakan atau pindah tempat tugas ke tempat lain dengan iming-iming gaji yang besar.
2. approach-avoidance conflict (Konflik pendekatan penghindaran)
Di sini, seseorang menghadapi situasi yang mengharuskan ia terpaksa memilih di antara dua alternatif yang sama-sama tidak disukai atau sama-sama dianggap buruk. Contoh kongkrit, Laboratorium Sistem Informasi disediakan opsi untuk pindah ke gedung yang angker atau tetap di gedung yang lama dan sumpek.
3. avoidance-avoidance conflict (Konflik penghindaran-penghindaran)
Pada kasus ini, seseorang harus menghadapi situasi dimana waktu ia memilih, ia harus menghadapi konsekwensi yang saling bertolak belakang. Misalnya, orang itu akan memperoleh gaji yang sangat besar, tapi harus pindah ke tempat terpencil yang sangat tidak disukai
Faktor Penyebab Konflik
- Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
-Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
-Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
-Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Ada beberapa pilihan dalam mengatasi konflik diantaranya:
a. Menghindar
Ada kalanya lebih baik menghindar bila masalahnya tidak penting, kondisi psikologis sangat emosional, dan tidak akan timbul akibat yang lebih buruk bila konflik itu diteruskan.
b. Akomodasi
Tujuan dari cara ini adalah hubungan yang harmonis dengan menempatkan kebutuhan dan pendapat orang lain di atas pendapat kita. Hal ini paling baik digunakan saat masalah tersebut tidak terlalu penting dan ingin di masa depan yang diinginkan lebih diperhatikan orang tersebut.
c. Memaksa
Agar kemauan kita terpenuhi meski mengorbankan orang lain, kadang-kadang bisa menjadi pilihan yang baik dalam menyelesaikan masalah.
d. Kompromi
Cara ini membutuhkan pengorbanan dari kedua belah pihak. Sangat tepat bila digunakan pada saat kita berada pada posisi yang sejajar dengan pihak lain, dan dibutuhkan solusi yang segera sementara masalahnya sangat kompleks.
e. Kolaborasi
Ini adalah penyelesaian masalah “menang-menang”. Semua pihak berusaha untuk dapat memenuhi semua kebutuhan orang yang berkonflik. Ini dapat dilakukan bila keduanya terbuka dan jujur, mendengar dengan baik sehingga mengerti perbedaan masing-masing, serta mengungkap berbagai alternatif solusi yang menguntungkan semuanya. Menggunakan ini bila tidak terkait dengan batas waktu penyelesaian dan masalahnya sangat penting sehingga tidak dapat dikompromikan.
f. Integrasi, yaitu mendiskusikan, menelaah, dan mempertimbangkan kembali pendapat-pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.
B. KEBAHAGIAAN
Pengertian kebahagiaan menurut beberapa pendapat:
Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya.Para filsuf dan pemikir agama telah sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi. Definisi ini digunakan untuk menerjemahkan eudaimonia (Bahasa Yunani: εὐδαιμονία) dan masih digunakan dalam teori kebaikan. (wikipedia)
Pengertian kebahagiaan menurut Aristoteles (dalam Adler, 2003) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan orang yang bahagia menurut Aristoteles (dalam Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money and goodness.
Arti kata “bahagia” berbeda dengan kata “senang.” Secara filsafat kata “bahagia” dapat diartikan dengan kenyamanan dan kenikmatan spiritual dengan sempurna dan rasa kepuasan, serta tidak adanya cacat dalam pikiran sehingga merasa tenang serta damai. Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat berhubungan dengan kejiwaan dari yang bersangkutan (Dalam Kosasih, 2002).
Kebahagiaan merupakan sebongkahan perasaan yang dapat dirasakan berupa perasaan senang, tentram, dan memiliki kedamaian (Rusydi, 2007). Sedangkan happiness atau kebahagiaan menurut Biswas, Diener & Dean (2007) merupakan kualitas dari keseluruhan hidup manusia – apa yang membuat kehidupan menjadi baik secara keseluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi ataupun pendapatan yang lebih tinggi.
Furnham (2008) juga menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan bagian dari kesejahteraan, contentment, to do your life satisfaction or equally the absence of psychology distress. Ditambahkan pula bahwa konsep kebahagiaan adalah merupakan sinonim dari kepuasan hidup atau satisfaction with life (Veenhoven, 2000). Diener (2007) juga menyatakan bahwa satisfaction with life merupakan bentuk nyata dari happiness atau kebahagiaan dimana kebahagiaan tersebut merupakan sesuatu yang lebih dari suatu pencapaian tujuan dikarenakan pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang lebih tinggi serta tempat kerja yang lebih baik.
Sumner (dalam Veenhoven, 2006) menggambarkan kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya merupakan bentuk dari kepemilikan komponen kognitif dan afektif. Aspek kognitif dari kebahagiaan terdiri dari suatu evaluasi positif terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui standard atau harapan, dari segi afektif kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut secara umum sebagai suatu rasa kesejahteraan (sense of well being), menemukan kekayaan hidup atau menguntungkan atau perasaan puas atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.”
Diener (1985) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan mempunyai makna yang sama dengan subjective wellbeing dimana subjective wellbeing terbagi atas dua komponen didalamnya. Kedua komponen tersebut adalah komponen afektif dan komponen kognitif.
sumber:
http://ecounselingsmandar.blogspot.com/2012/03/konflik-dan-cara-mengatasinya.html
http://id.wikipedia.org/
http://kartikoedhi.wordpress.com/2011/03/08/jenis-konflik/
http://www.psychologymania.com/2012/10/pengertian-kebahagiaan.html
Konflik merupakan suatu kondisi, baik dalam internal individu atau pun dalam lingkungan sosial, di mana terdapat dua hal yang bertentangan atau berlawanan dalam waktu yang bersamaan
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas menganai bentuk bentuk konflik internal/interpersonal. sebenarnya ada banyak bentuk dan jenis dari konflik tp pada kesempatan ini kita hanya akan membahas tiga macam konflik interpersonal, diantaranya:
1. approach-approach conflict (Konflik pendekatan-pendekatan)
dimana seseorang mengalami konflik karena diperhadapkan pada dua tujuan yang sama-sama menguntungkan atau sama-sama disukai, karena memiliki daya tarik yang sama juga. Sebagai contoh, di waktu yang sama, seseorang harus membuat pilihan menerima promosi jabatan yang sudah lama didambakan atau pindah tempat tugas ke tempat lain dengan iming-iming gaji yang besar.
2. approach-avoidance conflict (Konflik pendekatan penghindaran)
Di sini, seseorang menghadapi situasi yang mengharuskan ia terpaksa memilih di antara dua alternatif yang sama-sama tidak disukai atau sama-sama dianggap buruk. Contoh kongkrit, Laboratorium Sistem Informasi disediakan opsi untuk pindah ke gedung yang angker atau tetap di gedung yang lama dan sumpek.
3. avoidance-avoidance conflict (Konflik penghindaran-penghindaran)
Pada kasus ini, seseorang harus menghadapi situasi dimana waktu ia memilih, ia harus menghadapi konsekwensi yang saling bertolak belakang. Misalnya, orang itu akan memperoleh gaji yang sangat besar, tapi harus pindah ke tempat terpencil yang sangat tidak disukai
Faktor Penyebab Konflik
- Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
-Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
-Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
-Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Ada beberapa pilihan dalam mengatasi konflik diantaranya:
a. Menghindar
Ada kalanya lebih baik menghindar bila masalahnya tidak penting, kondisi psikologis sangat emosional, dan tidak akan timbul akibat yang lebih buruk bila konflik itu diteruskan.
b. Akomodasi
Tujuan dari cara ini adalah hubungan yang harmonis dengan menempatkan kebutuhan dan pendapat orang lain di atas pendapat kita. Hal ini paling baik digunakan saat masalah tersebut tidak terlalu penting dan ingin di masa depan yang diinginkan lebih diperhatikan orang tersebut.
c. Memaksa
Agar kemauan kita terpenuhi meski mengorbankan orang lain, kadang-kadang bisa menjadi pilihan yang baik dalam menyelesaikan masalah.
d. Kompromi
Cara ini membutuhkan pengorbanan dari kedua belah pihak. Sangat tepat bila digunakan pada saat kita berada pada posisi yang sejajar dengan pihak lain, dan dibutuhkan solusi yang segera sementara masalahnya sangat kompleks.
e. Kolaborasi
Ini adalah penyelesaian masalah “menang-menang”. Semua pihak berusaha untuk dapat memenuhi semua kebutuhan orang yang berkonflik. Ini dapat dilakukan bila keduanya terbuka dan jujur, mendengar dengan baik sehingga mengerti perbedaan masing-masing, serta mengungkap berbagai alternatif solusi yang menguntungkan semuanya. Menggunakan ini bila tidak terkait dengan batas waktu penyelesaian dan masalahnya sangat penting sehingga tidak dapat dikompromikan.
f. Integrasi, yaitu mendiskusikan, menelaah, dan mempertimbangkan kembali pendapat-pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.
B. KEBAHAGIAAN
Pengertian kebahagiaan menurut beberapa pendapat:
Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya.Para filsuf dan pemikir agama telah sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi. Definisi ini digunakan untuk menerjemahkan eudaimonia (Bahasa Yunani: εὐδαιμονία) dan masih digunakan dalam teori kebaikan. (wikipedia)
Pengertian kebahagiaan menurut Aristoteles (dalam Adler, 2003) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan orang yang bahagia menurut Aristoteles (dalam Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money and goodness.
Arti kata “bahagia” berbeda dengan kata “senang.” Secara filsafat kata “bahagia” dapat diartikan dengan kenyamanan dan kenikmatan spiritual dengan sempurna dan rasa kepuasan, serta tidak adanya cacat dalam pikiran sehingga merasa tenang serta damai. Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat berhubungan dengan kejiwaan dari yang bersangkutan (Dalam Kosasih, 2002).
Kebahagiaan merupakan sebongkahan perasaan yang dapat dirasakan berupa perasaan senang, tentram, dan memiliki kedamaian (Rusydi, 2007). Sedangkan happiness atau kebahagiaan menurut Biswas, Diener & Dean (2007) merupakan kualitas dari keseluruhan hidup manusia – apa yang membuat kehidupan menjadi baik secara keseluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi ataupun pendapatan yang lebih tinggi.
Furnham (2008) juga menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan bagian dari kesejahteraan, contentment, to do your life satisfaction or equally the absence of psychology distress. Ditambahkan pula bahwa konsep kebahagiaan adalah merupakan sinonim dari kepuasan hidup atau satisfaction with life (Veenhoven, 2000). Diener (2007) juga menyatakan bahwa satisfaction with life merupakan bentuk nyata dari happiness atau kebahagiaan dimana kebahagiaan tersebut merupakan sesuatu yang lebih dari suatu pencapaian tujuan dikarenakan pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang lebih tinggi serta tempat kerja yang lebih baik.
Sumner (dalam Veenhoven, 2006) menggambarkan kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya merupakan bentuk dari kepemilikan komponen kognitif dan afektif. Aspek kognitif dari kebahagiaan terdiri dari suatu evaluasi positif terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui standard atau harapan, dari segi afektif kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut secara umum sebagai suatu rasa kesejahteraan (sense of well being), menemukan kekayaan hidup atau menguntungkan atau perasaan puas atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.”
Diener (1985) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan mempunyai makna yang sama dengan subjective wellbeing dimana subjective wellbeing terbagi atas dua komponen didalamnya. Kedua komponen tersebut adalah komponen afektif dan komponen kognitif.
sumber:
http://ecounselingsmandar.blogspot.com/2012/03/konflik-dan-cara-mengatasinya.html
http://id.wikipedia.org/
http://kartikoedhi.wordpress.com/2011/03/08/jenis-konflik/
http://www.psychologymania.com/2012/10/pengertian-kebahagiaan.html





